Mengenal asy-Syaikh ‘Ali asy-Syarafi hafizhahullah

Nama, Kelahiran, dan Kondisi Keluarga
Beliau adalah ‘Ali bin Husain bin ‘Abdillah asy-Syarafi, Abu ‘Ammar, (dikenal dengan Ali Hudzaifi) berasal dari daerah Syaraf kota Baidha’ – Yaman. Lahir pada tahun 1389 H (1969 M).
Beliau berasal dari keluarga yang baik. Beliau sering menyebut-nyebut kebaikan orang tuanya dan memujinya. “Aku terpengaruh dengan ayahku dalam hal memperhatian terhadap hal-hal yang halal dan hidup sederhana. Demikianlah pendidikan yang ditanamkan ayahku. Hingga sekarang aku mendapat manfaat dari nasehat-nasehat beliau hingga saat ini.”

Kondisi Lingkungan pada masa kecil dan remaja
Kondisi lingkungan pada masa kecil dan remaja beliau berada dalam situasi yang suram. Kota Aden yang beliau hidup di situ pada waktu itu berada di bawah kekuasaan pemerintah Yaman Selatan, yang berhaluan komunis. Kondisi ini membuat lingkungan yang ada benar-benar jauh dari agama dan ilmu agama. Beliau menuturkan kondisi ketika itu, “Orang-orang yang istiqomah – terlebih pada pemuda – pada masa partai sosialis yaman berkuasa benar-benar menderita karena tidak ada ilmu. Di Aden ketika itu tidak ada ulama, tidak ada kajian-kajian, tidak ada pula da’i-da’i Sunnah. Tidak kenal denga ilmu syar’i , kecuali tersisa sangat sedikit orang-orang yang memiliki bekal ilmu fiqh madzhab Syafi’i. Itu pun mereka tidak punya pengaruh dakwah. Sehingga perhatian kaum muslimin terhadap kebaikan, ilmu, dan al-Qur’an sangat sedikit. Meskipun masih banyak yang mengerjakan shalat.”

Namun, meskipun kondisi yang buruk tersebut, Ali Hudzaifi muda berupaya mengambil faidah ilmu dari beberapa syekh yang ada ketika itu.

Hingga Allah memberikan taufiq kepada beliau untuk mengenal sunnah dan manhaj yang lurus ini, yaitu dengan Allah mudahkan beliau untuk melakukan rihlah menuntut ilmu kepada al-Allamah mujaddid negeri Yaman asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah di desa Dammaj, pada tahun 1991 M. Beliau pun berjumpa dengan sejumlah murid senior asy-Syaikh Muqbil.

Asy-Syaikh ‘Ali al-Hudzaifi belajar langsung kepada asy-Syaikh Muqbil berbagai bidang ilmu penting :
Shahih al-Bukhari (sebagian)
Shahih Muslim (sebagian)
Tafsir Ibnu Katsir
Kitab as-Sunnah karya ‘Abdullah bin al-Imam Ahmad
Ash-Shahih al-Musnad mimma Laisa fi ash-Shahihain
Ta’liqat ‘ala al-Mustadrak
Dll

Asy-Syaikh ‘Ali mengatakan, “Dari asy-Syaikh Muqbil aku mengambil faidah yang sangat banyak, aku tidak bisa menghitungnya. Barangsiapa yang belajar langsung kepada beliau dan mengenal beliau dari dekat, serta mengenal metode beliau dalam ilmu maka dia tidak akan ragu bahwa tokoh besar ini memang merupakan tokoh yang Allah pilih untuk melakukan tajdid terhadap dakwah di Yaman, setelah sebelumnya berada dalam cengkraman Syi’ah di wilayah utara, dan Tashawwuf di wilayah selatan.”

Figur asy-Syaikh Muqbil paling berpengaruh pada diri asy-Syaikh ‘Ali al-Hudzaifi, “Beliau adalah ulama yang paling besar pengaruhnya terhadapku. Aku belajar langsung kepada beliau di Dammaj selama hampir 4 tahun, namun demikian dalam waktu yang sangkat tersebut aku mengambil faidah yang sangat banyak. Menuntut ilmu kepada beliau telah membukakan pintu-pintu ilmu yang banyak untukku, hingga hari ini aku mengambil manfaat darinya. Sungguh aku menganggap menuntut ilmu kepada asy-Syaikh Muqbil merupakan di antara nikmat terbesar terhadap. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas.” kenang asy-Syaikh ‘Ali

Di samping kepada asy-Syaikh Muqbil, asy-Syaikh ‘Ali juga belajar kepada asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab al-Wushabi hafizhahullah. Demikian pula asy-Syaikh ‘Ali belajar kepada para murid-murid senior di Dammaj. Beliau sangat perhatian untuk menggunakan waktu-waktunya untuk ilmu, durus, hifzh (hafalan), muthala’ah, dan mudzakarah bersama ikhwah.

Di antara para masyaikh Ahlus Sunnah yang memberikan tazkiyah kepada asy-Syaikh ‘Ali adalah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah dan asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri hafizhahullah. Dalam perjalanan kiprah beliau dalam berdakwah dan menulis, beberapa karya tulis ilmiah beliau sampai kepada dua syaikh besar tersebut. Beliau berdua memuji karya-karya tulis tersebut.

Barangsiapa yang duduk dengan asy-Syaikh ‘Ali, dia akan mengenali akhlak mulia beliau dalam bergaul dengan orang yang lebih tua maupun yang lebih muda, juga terhadap orang yang berilmu dan orang yang masih bodoh. Demikian pula adab beliau yang sangat sopan, semangat yang besar terhadap ilmu, amal, dan dakwah kepada manhaj salaf.

Salah seorang murid beliau menuturkan, “Beliau menanamkan kepada kami sikap untuk memuliakan para ‘ulama salafiyyin, yang terhadahulu maupun masa ini, serta bersikap adab terhadap ilmu dan ‘ulama. Demikian pula beliau memberikan dorongan yang sangat besar untuk menuntut ilmu dan berbekal dengannya, serta sungguh-sungguh padanya. Beliau juga memiliki peran besar dalam memberikan wawasan kepada banyak ikhwah terkait dengan manhaj salafy dan membongkar penyimpangan-penyimpangan berbagai kelompok dan jama’ah dakwah. Beliau juga memiliki perhatian sangat besar terhadap kitab-kitab para ‘ulama terhadahulu.”

Sumber : Majmu’ah Durus wa Muhadharah Masyaikh ‘Aden